5. Tabahkan

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Begitu mudahnyakah melepas segalanya?" gumamku lirih. Hatiku terasa seperti diremas-remas. Aku tak menyangka kau bisa setega ini. Dulu, kau selalu berjanji akan setia. Lalu, di mana sumpahmu itu sekarang? Aku menatap lurus ke depan, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Apakah semua pengorbananku selama ini sia-sia? Aku merasa sangat bodoh telah mempercayai semua kata-katamu

Aku berdiri di tepi pantai, angin laut menerpa wajahku. Ombak bergulung-gulung seolah mengikuti gejolak hatiku. Matahari mulai terbenam, meninggalkan langit berwarna jingga. Aku menatap ke arah cakrawala, seakan mencari jawaban dari semua pertanyaan yang ada di benakku. "Apa kamu tidak malu pada burung-burung yang selalu mengintipmu dengan diam?" tanyaku pada diri sendiri. Burung camar terbang bebas di atas langit, sementara aku terkungkung oleh rasa sakit

Hatiku seperti kaca yang pecah berkeping-keping. Setiap serpihannya menusuk relung jiwaku. Aku merapal mantra kesedihan, berharap bisa merekatkan kembali hati yang hancur ini. Namun, tak ada satu pun kata yang mampu menyembuhkan luka ini. Aku hanyalah bayangan seorang pengemis cinta, mengemis kasih sayang yang tak pernah kuterima

Saat aku hampir menyerah, tiba-tiba ponselku berdering. Nomor yang tidak dikenal. Dengan ragu, aku mengangkat telepon. "Halo?" sapaku. "Aku tahu semuanya," suara itu terdengar dingin. "Aku akan membantumu."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15. Luas Ilmunya

13. Rugi

8. Jangan salahkan kenapa